Apabila seluruh jamaah merupakan musafir, tidak ada penduduk setempat yang mengikuti, maka menurut Imam Syafi'i hukumnya tidak sah. Tetapi menurut Imam Abu Hanifah sah berdasar kitab Majmu’ juz 4 halaman 505:
(فَرْعٌ) لاَ تَنْعَقِدُ الجُمُعَةُ عِنْدَنَا لِلْعَبْدِ وَلاَ المُسَافِرِيْنَ وَبِهِ قَالَ الجُمْهُور. وَقَالَ أَبُو حَنِيْفَةَ تَنْعَقِدُ
(Pasal) Tidak sah jumat menurut kita (madzhab Syafi'i) bagi seorang hamba sahaya dan bagi orang musafir. Hal ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama. Imam Abu Hanifah berkata, "(Jumatnya hamba dan musafir) sah."
Yang dimaksud tidak sah dalam dalil di atas adalah seorang musafir atau hamba sahaya tidak dapat melengkapi kebutuhan 40 orang jamaah yang menetap. Seandainya ada jamaah Jumat yang memenuhi persyaratan dan diikuti oleh sang musafir, maka shalat Jumat bagi musafir itu sah.
Mengingat repotnya ketentuan jumat ini, maka sebenarnya bepergian pada hari Jumat tidak dianjurkan. Bahkan bila kita berangkat sesudah subuh dan yakin akan ketinggalan Jumat maka hukum bepergian itu menjadi haram. Berdasar kitab Majmu’ juz 8 halaman 84:
قال أصحابنا فان كان يوم جمعة خرجوا قبل طلوع الفجر لان السفر يوم الجمعة بعد الفجر وقبل الزوال إلى حيث لا تصلى الجمعة حرام في أصح القولين
Ulama Syafi'iyah berkata, "Andai pada hari Jumat orang-orang keluar sebelum fajar (maka keluarnya tidak masalah). Karena bepergian pada hari Jumat setelah fajar dan sebelum tergelincirnya matahari hingga seseorang itu tidak menjalankan shalat Jumat hukumnya haram menurut pendapat terbaik dari dua pendapat."
Semoga Dapat Dipahami
JAMAAH JUMAT DILAKUKAN MUSAFIR, SAH MENURUT IMAM ABU HANIFAH
Diposting oleh
Bintang Kejoraku
on Minggu, 20 Desember 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar